Rabu, 21 Oktober 2009

AKU BALI....!!!

Karya :
Xnoodeent el Aacheem
[Ikhsannudin Al Hakim]


Senja. Senja yang begitu berarti. Tak kan terulang dalam hidupku lagi. Mega yang merah jambu bak gaun ratu yang megah. Pohon-pohon kelapa berayun menari riang. Lampu rumah mulai hidup satu persatu. Mentari sayup-sayup meninggalkan cahaya kuning. Merah mulai menggelap. Putih mulai ternodai. Gentar. Suara adzan bergema. Maghrib sudah menjelang. Gema adzan semakin merasuki tubuhku. Telingaku terus menangkap suara adzan. Hatiku semakin bergetar. Jantungku semakin berdetak kencang. Dug...dug...dug... Panggilan itu semakin jelas dan memintaku untuk segera menunaikan kewajibanku. Namun, apa daya. Kini ku berada dalam kotak yang terus berjalan tanpa henti di atas jalan yang dipenuhi aspal.

“Kok nggak tenang gitu kamu. Ada apa, Kya?” tanya Aris, pasangan dudukku.

“Aku mau shalat Maghrib. Tapi, busnya nggak berhenti-berhenti,” jawabku.

“Kita kan tour. Jadi nggak mungkin asal turun di jalan. Lagi pula bisa diqoshor, kan shalatnya sama Isya’. Atau tayamum saja.”

“Lebih baik pada waktunya dan pada tempat yang layak. Mumpung aku masih bisa merasakan indahnya hidup,” kataku singkat.

“Terserah kamu saja, Kya.”

Aku semakin ingin shalat di masjid. Aku tak tahu kapan ku tiada. Aku harus melakukan yang terbaik sebelum ku tiada. Orang-orang tak mengerti kapan nyawaku dicabut. Penyakitku kian parah. Maag. Ya, maag. Itu sebutan penyakitku. Tak hanya itu. Masih ada embel-embel “akut” di belakangnya. Itu yang membuatku semakin percaya nyawaku taklah abadi. Selama hampir lima hari ini aku tak membawa bahkan tak meminum obat. Kemarin satu hari sebelum naik bus ini, penyakitku kambuh. Darahku keluar menggantikan dahak ketika ku batuk. Teman-temanku tak tahu. Aku di dalam kamar sendiri. Teman-teman sekamarku sedang sarapan. Aku ingat, dokter telah memvonis hidupku yang mungkin hanya beberapa waktu lagi berakhir.

--ϠϠϠ--

“Kya, kamu beli apa di Joger?” tanya Aris untuk mengalihkan ku dari lamunanku.

“Aku beli... ada, deh.”

“Ah, pakai rahasia-rahasia segala. Memangnya buat siapa yang kamu beli itu?”

“Buat orang-orang yang aku sayangi semasa hidupku...”

Aris hanya tersenyum ketika mendengar jawabanku. Dia pun menepuk pundakku. Matanya seakan menahan air. Aku mengerti. Tak ada orang yang tahu akan penyakitku, kecuali keluargaku. Namun, apakah Aris tahu tentang diriku? Atau teman-temanku ada yang tahu? Aku yang berada di deret kiri dan duduk di sebelah kiri pun memalingkan wajahku ke luar jendela yang berada tepat di samping kiriku. Huft... semoga jiwaku tenang.

--ϠϠϠ--

Bus pariwisata yang membawa rombonganku pun masih tetap melaju. Tak ada lagi adzan Maghrib saat ini. Teman-teman terlihat bahagia dan sedikit kecewa. Maklum, kalau habis dari Pulau Dewata itu seakan menyisakan kebahagiaanku akan pesona panorama dan memberikan kekecewaan karena tak lagi menyaksikan panorama itu. Bali. Oh Bali. Pulau yang menyisakan kebahagianku bersama teman-temanku.

--ϠϠϠ--

Teman-teman semakin berlebihan dalam kebahagiaan mereka. Banyak yang menyanyi hingga keras. Para guru yang menjadi pembina dalam rombonganku hanya memaklumi tingkah mereka. Aris berkata padaku, “Kya, Zakya. Ini sudah saatnya...”

Namun, suasana berubah. Kini es secepat ini mendidih menjadi uap. Farhan, salah satu teman dalam satu rombonganku itu memaksa Dika yang duduk di depanku untuk membuka barang belanjaan milik Dika. Dika tak terima akan paksaan Farhan. Satu pukulan dari tangan Dika mengenai wajah Farhan. Hidung. Hidung Farhan mencucurkan darah yang tak tahu berapa mililiter yang keluar. Farhan yang ikut mendidih kepalanya, segera memberikan dua pukulan untuk Dika yang masih dalam keadaan duduk. Mata. Mata Dika memar. Pak Rudi, salah satu guru pembina rombonganku yang duduk di belakang, segera maju ke tempat perkelahian. Suasana semakin memanas. Pak Rudi dan guru-guru lain tak bisa melerai mereka berdua. Cowok-cowok memadati tempat perkelahian. Ada yang mendukung salah satu pihak. Ada yang ingin melerai. Suasana tetaplah semakin memanas. Termometer pun kan pecah untuk mengukur situasi ini. Aku yang dalam keadaan berdiri dan tak bisa keluar pun terkena pukulan Farhan. Pipiku memar. Tak ada yang peduli. Pukulan Farhan mengenai kaca jendela bus. “Pyaaaaa....rrr.” Kaca yang sedikit tebal itu pecah. Bus masih melaju. Cewek-cewek hanya menjerit-jerit. Pemandu wisata terus memberikan peringatan yang tak berhenti. Itu juga tak dipedulikan oleh kedua bocah yang seakan menjadi bintang “Boxer”.

Bus yang ku naiki ini adalah bus yang membawa rombongan terakhir. Aku tahu, rombongan lain telah meninggalkan bus kami. Mereka tak kan tahu situai panas ini. Kalau pun tahu, mereka sudahlah jauh. Jalan yang kini bus lewati adalah jalan yang berada di tengah hutan. Jauh dari pemukiman. Mengapa hanya masalah yang kecil menjadi besar? Panas. Suasana panas. Guru-guru hingga berteriak dan mencoba melerai keduanya. Namun, tak ada hasil. Justru beberapa guru terkena pukulan di antara keduanya. Tegang. Gaduh. Panas. Itu yang aku rasakan. Yang semakin menggetarkanku, ketika pemandu wisata mengumumkan, “REM BLOOOONG...!!!” Itu bukanlah kata yang dibuat-buat. Rem benar-benar blong. Bus berjalan semakin tak beraturan. Tak ada kendaraan yang melintas di jalan yang bus kami lalui.

Hutan. Gelap. Ketegangan. Itu yang ada. Perkelahian itu tak juga berhenti. Cewek-cewek semakin keras dalam jeritannya, seolah membawa suasana semakin PANAS, PANAS, DAN PANAS. Air mata semakin bercucur di antara kami. Teriakan-teriakan kami tak mengalihkan mereka berdua. Seakan hantu Leak merasuki jiwa mereka. Singa yang berebut kekuasaan. Angin yang masuk dari jendela yang tak berkaca tak memberikan aura damai. Sopir bus tak bisa menghentikan bus ini. Laju bus pun tak beraturan. Ombak Samudra Hindia yang ku rasakan saat ini. Farhan dan Dika tak lagi dikenal wajah keduanya. Darah dan memar yang terlukis pada wajah mereka. Kami semua mencoba menghentikan mereka. Beberapa tangan memegang tangan kedua petarung. Keduanya mencoba memberontak. Mata mereka merah. Tarian barong menghiasi bus kami. Kedua barong terus saja beraksi dan bereaksi. Keduanya ditarik ke arah dua kutub yang berlawanan.

Suasana mulai mereda. Namun. Namun, satu kata yang keluar dari mulut sopir bus. “TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK....!!!!!!” Teriakan yang menggetarkan hatiku. Jam tanganku berdetik, “TIK...!!!”. Seketika bus tak terarah. Sopir keluar dari bus melalui pintunya. Jurang. Ya, jurang. Jurang berada tepat di depan bus. Dan... bus terperosok. “AAAAaaaaaaaa....................!!!” Jeritan-jeritan ini ku rasakan. Ini bukan roll coaster. Bus miring ke kiri. “BRUUU...KK...!!!” Orang-orang dan barang-barang di bus jatuh ke arah kiri. Aku tak bisa keluar. Semua jatuh ke arah kiri. Aku mencoba keluar dari bus yang semakin terperosok. “BRUK...!!!” Bus mulai menggeser dan akan jatuh. Ku segera mencari cara. Jendela. Itu jalan satu-satunya. Jendela yang telah pecah terkena pukulan Farhan. Aku harus bisa keluar. Aris sudah tak kuat menahan orang-orang dan barang-barang yang berada di atasnya. Ku tarik tangannya. Namun, terlepas. Ku coba berpindah ke jendela itu. Tak bisa. Aku punya ide. Ku ingat ketika pukulan Farhan bisa memecahkan kaca. Ku coba memukul kaca jendela sebelahku. Ought... sakit. Tak apa. Satu dua pukulan tak cukup. Dengan penuh keinganan... “PYAAaaa..rrr” Pecah. Pecahnya pun juga besar. Bisa ku gunakan keluar sebelum berakhir. Ku tarik tangan Aris lagi. Aris pun bisa ku tarik. Ku segera keluar melalui jendela. Dan... bisa. Ku berada di tanah yang sangat miring. Ku tarik kembali tangan Aris. Telapak tangannya sudah keluar dari jendela. Jeritan-jeritan orang-orang yang berada di dalam pun semakin kuat. Semakin menggetarkan gendang telingaku. Jantungku berdetak kencang. Aku ceroboh. Tanganku berkeringat. Licin. Tangan Aris terlepas dari genggamanku. Dan bus tak kuat menahan orang-orang ini. “BRUUuuu....kkkKK...!!! PYAAaaa....rrRR...!!! AAAaaaa....!!!” Suara-suara itu semakin jelas. Bus pun terpelosok semakin dalam ke jurang. Jeritan-jeritan itu semakin jauh. Bus rombonganku terlihat terguling-guling di tebing jurang. TIDAAAAAAAAAAA..................KKKKK...!!!! Aku telah kehilangan mereka semua. Air mataku tak lagi bisa tertahan. Tanganku yang berdarah pun tak bisa ku rasakan sakitnya. Hatiku lebih sakit.

--ϠϠϠ--

Tak ada yang lebih sakit selain hidup tak berarti

Air mata tercucur tak cukup untuk mengobati

Uang pun tidaklah mampu untuk membayar

Dalamnya kesedihan pula yang didapat

Apalah yang ada di dunia ini berarti

Pastilah hanya kembali pada Ilahi

Tidaklah semua itu akan abadi...

Fana...

Hampa...

Tak bersisa...

Apakah yang sisa?

Hanya sebuah nama...

Nama, nama, dan nama saja.

--ϠϠϠ--

“Kya, Zakya. Ini sudah saatnya... Saatnya kita akan makan malam dan shalat Isya’. Sekitar setengah jam lagi. Ayo bangun! Sekarang kita melewati hutan lho...”

Suara ini membangunkanku dari tidurku. Ternyata ini suara Aris yang membangunkanku. Mimpi. Mimpi itu tak lagi mengusikkan diriku. Ternyata semua yang ada dalam bus masih hidup. Aris pun masih bisa membangunkanku. Tanganku tak terluka. Jendela tak ada yang pecah. Teman-temanku tampak gembira. Perasaanku pun tenang. Detak jantungku pun normal. Senyumku pun dapat ku rasakan. Kegembiraan bersama teman-teman pun ku rasakan.

--ϠϠϠ--

SEKIAN...

--ϠϠϠ--

Namun, ku lihat Farhan yang bangkit dari tempat duduknya. Dia mendekati Dika yang duduk di jok depanku.

“Dik, lihat belanjaanmu! Buka!” paksa Farhan.

“Tidak, jangan sentuh!” teriak Dika.

Aku berdiri dan ku lihat tangan Dika mengepal keras. Tangan Dika melayang ke arah Farhan dan akan mengenai wajah Farhan.

“TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaa..............kkkkkkk.....!!!!”

--ϠϠϠ--

1 komentar:

  1. Ini cerpenku yg t'inspirasi dari peristiwa Situbondo dan mimpiku. Pada awalnya cerpen ini hanya untuk obat penyesalanku tidak ikut touring di Bali bersama tmn2 SMA-ku....
    Tapi, krn ku pengen berbagi ku terbitkan cerpenku ini di Blog-ku...

    terima kasih sudah membaca

    BalasHapus