
Malam adalah waktu yang sangatlah panjang. Tak ada cahaya yang menjadi raja. Hanya kemilau berlian di hamparan langit hitam. Dan bulan sabit yang memberikan senyum di bulan ini, karena bulan sabit adalah penentuan awal bulan ini. Bulan yang penuh pembakaran. Bulan yang penuh kecerian ketika berbuka. Bulan yang penuh berkah. Marhaban Ya Ramadhan. Senyumku kan ada dalam hari-harimu. Ku kan selalu sebut nama-Nya setiap hari. Kau lah bulan yang mengajarkan diriku untuk senantiasa menuju jalan yang lurus dan penuh dengan anugerah-Nya. Ku tak kan mengeluh ketika dahagaku melanda tenggorokanku dan keronconganku bergema dalam perutku yang buncit. Ya Allah, kuatkan diriku dan keluargaku dalam hadapi bulan yang penuh dengan cobaan dan pengampunan-Mu ini.
Ummiy adalah sebutanku oleh kedua anakku yang berarti “ibuku”. Namaku sebenarnya adalah Aulia Hamida. Suamiku sering memanggilku dengan sebutan “Lia”. Suamiku adalah suami yang bertanggung jawab dan mengerti kahidupan keluarga. Namanya Muhammad Ibrahim Hasan, atau biasa ku panggil “Mas Ahim”. Sementara anakku adalah Muhammad Ilham Ridho Hasan dan Nurul Yasmin Asy-Syiffa’.
Ilham, anak pertamaku, masih menggeliat di kamarnya. Sudah ku panggil beberapa kali untuk ikut sahur bersama aku dan suamiku. Ku tinggalkan dia dan ku lanjutkan ke ruang makan. Yasmin, anak keduaku ternyata sudah bangun. Sepertinya anak perempuanku ini ingin sekali mengikuti puasa di hari pertama bulan Ramadhan. Anak perempuan ini masih duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar. Aku tersenyum sambil mengambilkan makan sahur untuk suamiku dan Yasmin. Setelah itu, baru ku ambil makan sahurku. Ketika sendokku mau masuk ke dalam mulutku, tiba-tiba Ilham datang dan langsung mengambil jatahnya. Muka Ilham seperti sedikit marah. Mungkin karena aku yang panggil-panggil dia terus. Sudahlah. Hampir Imsya’. Ku cukupkan makanku dan ku bereskan meja makan rumahku ini. Dan kini kami sekeluarga shalat Subuh berjamaah di masjid yang jaraknya dekat dengan rumah. Setelah shalat, ku segera mempersiapkan diri untuk bekerja. Pasar. Lebih tepatnya, toko. Ya, di sanalah aku bekerja dengan dibantu oleh dua orang perempuan yang menjadi pembantuku. Tokoku tak jauh dari rumahku. Hanya cukup dengan berjalan kaki. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari rumahku. Tokoku sangat strategis karena berada di depan pasar. Suamiku atau biasa dipanggil Abiy oleh kedua anakku, menyempatkan untuk membantuku sebelum bekerja di kantor perpajakan di Kota. Sementara Ilham, ku suruh dia menjaga adiknya di rumah hingga pembantu rumah tanggaku datang, kemudian ku minta Ilham membantuku di toko dan menggantikan Abiy-nya, karena pada hari pertama Ramadhan semua sekolah termasuk SMA libur terkecuali sekolah Kristen atau Katholik.
Pasar hari pertama bulan Suci ini sangat ramai. Harga-harga sudah mulai naik, namun belum terlalu melonjak dan masih dalam kategori “wajar”. Pelanggan-pelangganku sudah banyak yang antre. Mulai dari yang ingin membeli beras, minyak goreng, gula pasir, gandum, pati kanji, rokok, obat maag, obat-obatan yang lain, snack 100-an, mie instan, teh, roti, kacang hijau, sagu, krupuk rambak, krupuk udang, mie jagung, sabun cuci, sabun mandi, dan masih banyak lagi yang lain. Bagiku, sudah biasa. Menghadapi situasi pelanggan-pelangganku yang ramai hingga berdesak-desakan. Sudah pukul 07.00, Ilham belum juga datang. Suamiku pun segera pulang untuk berangkat bekerja. Alhamdulillah, kedua pembantuku di toko sudah datang sejak pukul 06.00 tadi. Tak lama kemudian, sekitar pukul 07.15, Ilham datang membawa mie kriting di kedua tangannya yang di tiap tangannya terdapat empat plastik mie kriting. Pasti Abiy-nya yang suruh dia ke mari.
Hari sudah siang, pelanggan-pelangganku terus saja memadati tokoku. Ilham. Ya, Ilham. Wajahnya mungkin sudah tak bisa membuat pelanggan tertarik. Ku panggil dia. Ku suruh dia membawa tahu ke rumah untuk dibuat sayur buka nanti Maghrib. Huft... napasku terhembus. Rasa lega dari hatiku. Semoga Ilham mendapatkan pencerahan. Aku pun meneruskan pekerjaanku.
Ku tahu, kini hariku telah luluh. Sudah seharusnya ku segera memberesi tokoku bersama kedua pembantuku. Alhamdulillah setiap hari ku tak tertinggal lima waktu yang mulia walaupun dalam sibuknya personil dalam tokoku ketika melayani para pelangganku yang terus saja meminta ini dan itu. Pukul lima ini adalah tanda ketiga pembantuku harus pulang untuk mempersiapkan buka puasa keluarga mereka. Kami segera memberesi sebelum petang menjelang. Pembantu rumah tanggaku datang ke toko bersama Yasmin. Dia segera menemuiku.
“Bu, Mbak Yasmin dari tadi saya suruh buka puasanya waktu siang tidak mau. Saya kasian melihat wajahnya sudah pucat. Mas ilham suruh biarkan saja bagaimana kehendak Mbak Yasmin karena dia sungguh-sungguh mengikuti puasa hingga buka puasa tiba ketika adzan Maghrib,” kata orang yang merawat Yasmin setengah tahun ini dengan logatnya yang super cerewet.
“Mbak, sudahlah. Nanti aku yang atur. Kamu pulang saja dulu, biar Yasmin bersamaku karena sepertinya Yasmin kangen pada Ummiy-nya. Untuk buka puasa rumah sudah?” tanyaku.
“Oh, ada Mas Ilham, Bu. Tadi sudah beeeeeeeres semua. Sayur tahu ada. Kolak pisang tersedia. Teh manis siap minum. Krupuk kesukaan Bapak ada. Sambal trasi sudah saya siapkan.”
“Buah-buahan?”
“Oh, tadi Bapak beli kurma dan semangka.”
“Suamiku sudah pulang?”
“Sudah, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya persiapkan buat buka puasa keluarga saya. O, ya satu lagi, Bu. Besok itu ada pengumuman lomba yang Mbak Yasmin ikuti yang diumumkan di sekolahnya. Sebenarnya aneh juga, besok itu hari Minggu. Sekolah Mbak Yasmin kok buka ya? Ya, seperti itu saja, Bu. Saya pulang dulu. Assalaamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam wa rahmatullah.”
Kini adzan Maghrib berkumandang. Tanda untuk membatalkan puasa keluargaku tiba. Dua pembantu di tokoku telah pulang. Sebenarnya kami harus berbahagia mendengarnya. Namun, tidak untuk Yasmin. Dia terlihat lemas tak berdaya. Wajahnya pucat tak ceria. Matanya tertimbun panas kepala. Ku iba melihatnya. Ku coba meminumkan kolak pisang ke mulutnya. Namun, muntahan yang keluar dari mulutnya setelah ku minumkan. Aku cemas. Ku segera shalat Maghrib sendiri dan tak bisa khusyu’. Ku titipkan Yasmin sebentar ke Abiy-nya. Ku berdoa untuk Yasmin telah usai shalatku. Ku segera berdiri dan menggendong Yasmin. Ku ambil uang hijau bergambar pemanen teh dan bertuliskan 20.000 dari tas tempat penghasilanku terkumpul. Ku pamit kepada suamiku. Ku segera naik ke mobilku. Ku dudukkan Yasmin di jok sebelah jok ku. Ku segera menuju ke rumah dokter Susilo. Rasa was-was terus menghantui hidupku dalam waktuku.
Aku pun tiba di rumah dokter Susilo. Ku bel rumahnya tiga kali. “Kreeeeeeee...kk.” Pintu pun terbuka. Ku dipersilakan masuk bersama Yasmin ke ruang periksa oleh dokter Susilo. Ku ceritakan keadaan Yasmin. Dokter pun memeriksa anak yang sangat aku cintai ini. Dokter menyatakan ada kemungkinan Yasmin sakit dikarenakan dia kaget ketika puasa pertamanya. Aku pun diberikan beberapa obat. Dengan uang yang cukup, aku bayarkan demi kesehatan Yasmin.
Shalat Tarawih kedua di masjid tak bisa ku ikuti. Ku masih mencemaskan keadaan Yasmin. Walaupun dia telah terlelap di atas ranjang yang merah jambu, namun hatiku terus berdesir. Aku pun shalat Isya’ dan shalat Tarawih di kamar Yasmin. Tetesan air mata tak dapat ku tahan. Ku takut akan keadaan Yasmin. Pucat. Pasi. Tak berwarna cerah. Lantunan syair doa ku ucapkan dalam shalatku. Ku hanya bisa meminta kepada-Nya untuk putri tercinta. Shalat yang usai tak menghalangiku untuk memanjatkan pinta kepada yang Maha Memberi. Anakku, jadikanlah ini cobaanmu yang menjadikan kemuliaan untukmu. Diriku yakin Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, pasti kan menyayangimu sepertiku menyayangimu. Ku hanya bersandar kepada-Nya, putriku. Keceriaanmu adalah bagian dari kesempurnaan hidupku. Ku memelukmu untuk kehangatan malammu. Gelap. Sunyi. Sepi. Dan ku terlelap dalam kehangatan kasih sayang.
Ternyata Allah telah memberi kesempatan bagi Yasmin untuk kembali ceria. Mentari yang cerah menari atas kesembuhan putriku. Namun, Ilham berwajah lain. Muram. Tak ada keceriaan. Dia mendekatiku dengan penuh tanda tanya dalam pikirku. Dia bercerita.
“Ummiy, semalam ku memimpikan Yasmin meninggal dunia. Tak ada ceria lagi,” kata Ilham.
“Ah, Ummiy tak mengerti tentang arti mimpi. Tapi menurut orang Jawa, kalau mimpi yang seperti itu mungkin pertanda akan mendapat rizki. Nah, hari ini kan pengumuman lomba. Mungkin saja adikmu memenangkannya.”
Wajah Ilham pun mulai cerah. Entah apa yang dipikirkannya. Padahal dia sering bertengakar dengan adik perempuannya itu hanya karena masalah sepele. Ilham seperti ketakutan kehilangan putri kecil yang menggemaskanku. Ku sering berpesan padanya agar bersyukur karena sudah memilki saudara. Andai saudara telah pergi, hidup pun tak selamanya berarti. Ketika sakit, ketika sedih, ketika duka, ketika susah, hanya saudara yang mengerti dan memahami. Hanya saudara yang mampu menghibur segenap hati. Keikhlasan saudara adalah keikhlasan yang tinggi. Ilham mungkin belum mengerti. Namun, kelak dia kan mengerti. Walau deretan kataku itu hanya menggores kecil di hati Ilham, namun itu lebih baik dari pada tak ada sedikit goresan penyucian. Ilham. Mengertilah kau, Nak.
Aku segera ke toko. Hari ini pembantu rumah tanggaku tidak bisa masuk. Oleh karena itu, suamiku menjaga di rumah dengan kebiasaannya, mengurusi burung-burung merpatinya. Sehingga aku tak khawatir jika Yasmin tetap di rumah walaupun habis bangkit dari penyakitnya. Hari ini tak ku lihat wajah keterpaksaan Ilham untuk membantuku di toko. Aku dan Ilham pun segera membereskan perlengkapan ke toko. Aku membawa tas, buku-buku, dan nota-nota. Sementara Ilham membawa dua kardus mie instan. Kami berdua berjalan kaki menuju toko. Pelanggan-pelangganku sudah menungguku sekitar beberapa saat tadi. Ilham membukakan pintu dan menata dagangan. Dua pembantu tokoku pun juga mulai datang. Kami pun melayani pelanggan dengan senyum dan ceria.
Panas. Lemas. Kering. Itulah yang kami rasakan di toko. Melayani pelanggan yang tak pernah ada putus dalam antrean. Melayani pelanggan yang heterogen. Sabar. Sabar. Sabar. Insya Allah rizki-Nya kan turun dari langit, tumbuh dari bumi, datang dari jauh, dan keluar dari yang tersembunyi. Ilham pun tak mengenal lelah. Padahal pukul 12.33 sudah di depan mata. Aku pun sudah shalat di mushola dekat tokoku. Tiba-tiba, ku dengar suara orang sebaya Ilham memanggil-manggil Ilham.
“HAM, HAM...!!! Adikmu, Ham! Kamu harus tahu ini, Ham! Ini sangat mengejutkan,” katanya sambil berteriak mendekati tokoku.
Mengejutkan? Apa maksudnya? Para pelangganku tak menghiraukannya. Ilham pun segera menemuinya. Tak lama kemudian, Ilham mendekatiku. Dag dig dug. Jantungku berdetup kencang. Apa yang sebenarnya yang terjadi dengan Yasmin?
“Ada apa dengan adikmu, Ilham?” tanyaku sambil melayani pelangganku.
“Entahlah, Ummiy. Mungkin dia dapat rizki dari Allah. Aku ke Yasmin dulu untuk memastikan.”
“Baiklah. Ummiy akan siapkan hadiah buat putri Ummiy yang tercinta.”
Ilham segera pergi ke tempat Yasmin berada. Ku berharap rizki itu nyata. Aku segera mempersiapkan hadiah untuknya yang ku simpan dalam almari toko bagian dalam agar tak ada yang tahu. Biarkan dua pembantuku yang melayani para pelanggan.
Tak lama kemudian, Ilham datang dengan wajah cerah. Aku harap kabar baik darinya. Ku bertanya padanya, “Ilham, bagaimana adikmu, Yasmin?”
“Nggak ada apa-apa. Keadaannya baik, Ummiy. Nggak usah khawatir. Abiy suruh kita tutup toko. Lagi pula sudah siang kan nggak terlalu ramai,” jawabnya dengan nada pelan.
“Ah, Abiy-mu itu mungkin sangat bahagia. Ummiy sudah siapkan sureprice buat Yasmin, tapi diam saja. Lebih baik sekarang kita tutup.”
Aku, Ilham, dan kedua pembantuku segera menutup toko. Ku coba memahamkan para pelangganku. Dan kami pun segera ke rumah. Hatiku lega. Aku bangga memiliki putri yang pandai. Ku tak sabar untuk melihat putriku yang cantik. Tetanggaku menebarkan senyum pada kami. Kami segera ke halaman rumah. Tenda terpasang di halaman rumah. Banyak tamu berdatangan. Ah, suamiku terlalu berlebihan. Untuk selamatan saja sampai memasang tenda dan mengundang tetangga. Wajah tetangga seperti mengerti diriku. Ku tebarkan senyum ke arah mereka. Ilham dan kedua pembantuku tertunduk dan berjalan di belakangku. Kami pun masuk ke dalam rumah. Tetangga juga banyak dalam rumah. Aku tersenyum bangga. Ketika ku lihat suamiku yang arahnya berlawanan denganku, aku semakin bersyukur.
Ku sentuh pundak suamiku. Dia berbalik arah dan menatapku. Ku tersenyum lebar. Suamiku pucat. Pucat?
“Apa maksud senyumanmu? Apa kamu tak malu dengan tetangga?” tanya suamiku.
“Aku bangga dan bersyukur karena anak kita...” jawabku terpotong.
“Bangga?”
“Iya. Lagi pula kamu juga berlebihan mengadakan syukuran siang-siang seperti ini mengundang tetangga dan juga memakai tenda. Yasmin mana? Aku ingin melihat wajahnya yang ceria.”
“Yasmin. Sadar, Lia. Yasmin tak kan menampakkan keceriaannya. Senyumannya tak lagi hiasi hidup kita. Yasmin. Yasmin sudah diambil jiwanya oleh Sang Pemilik. Kini hanya raga yang akan kita antarkan hingga ke tempat persinggahan terakhir,” kata suamiku dengan tetesan air mata yang tak terbendung dari matanya yang memerah.
“Yasmin sudah tiada? Apa maksud semua ini, Mas Ahim? Ini permainan apa, Mas? Ini tak lucu. Ilham bilang dia baik-baik saja. Aku nggak perlu khawatir katanya. Aku sudah siapkan hadiah ini, namun hadiah yang sebenarnya adalah untuk keluarga kita bukan untuknya. Aku sangat kecewa pada Ilham. Sungguh tega kau Ilham mendustai Ummiy. Ummiy kecewa.” Ku tolehkan mataku ke arah Ilham. Ilham menunduk dan menangis dan bersuara. Dia lari dan segera memeluk tubuhku yang luluh atas fatamorgana ini. Aku tak mengerti maksud Ilham mendustai ibunya sendiri yang menyangkut dengan kehidupan keluarga kami. Ilham tak kunjung melepaskan pelukannya.
“Ummiy, maafkan aku. Aku terpaksa dustai Ummiy. Aku tak kuasa. Aku tak kuat. Aku sangat berat untuk mengatakan jujur. Aku sangat sulit untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku tak tega melihat Ummiy yang harus ditinggal oleh putri kesayangan dan kebanggaan Ummiy. Maafkan aku, Ummiy,” katanya sambil menangis dan membasahi pakaianku dalam pelukannya.
Aku mengerti mengapa Ilham harus mendustai aku. Ternyata dia tak tega melihatku yang telah runtuh di atas hati yang rapuh. Tak kuat melihatku yang kehilangan buah hati yang selalu mengobati lukaku ketika ku sedih dan pedih. Suamiku pun mengerti sikap Ilham. Aku segera melihat buah hatiku yang diambil nyawanya ketika bermain sepeda. Dia pergi tak diketahui suamiku. Dia jatuh dari sepeda dan tertusuk pisau yang berada di tanah hingga menembus jantungnya. Malaikat Izrail segera mengembalikan jiwa itu kepada Sang Khaliq.
Ku cium jidatnya. Bagiku dia menyisakan senyuman terakhirnya dalam ketiadaannya. Walaupun dia telah tiada di dunia, bagiku dia tetap ada dalam hatiku. Dia adalah bagian dari hidupku. Ku meminta keluarga dari suamiku dan dariku yang hadir khususnya yang perempuan untuk segera memandikan Yasmin. Kemudian dishalatkan. Dan akhir dari kewajiban kami adalah mengantarkan dan menguburkan jenazah Yasmin, buah hati yang harus rela meninggalkanku.
Ketika kami kembali ke rumah dan para petakziah datang, aku berpikir harus merelakannya dan ikhlas untuk kepergiannya. Tiba-tiba terdapat rombongan dari sekolah Yasmin. Wali kelas dan kepala sekolah segera menemuiku dan suamiku. Mereka turut berduka dan untuk terakhir kali kenangan para guru adalah Yasmin mendapatkan juara pertama yang diumumkan pada hari ini. Piagam, tropi dan uang pembinaan pun ku terima dan ini memang pantas menjadi hadiah bagi putriku yang telah pulang ke tempatnya. Aku pun tetap bangga kapadanya walau telah tiada.
Selamat jalan putriku. Terima kasih, kau telah menghiasi hidup kami. Ku doakan semoga Allah menempatkan jiwamu di tempat yang layak. Kini ku ikhlas dirimu kembali kepada pemilik dirimu. Terima kasih ya Allah. Engkau telah memberiku kesempurnaan hidup dengan titipanmu. Yasmin, kami kan selalu mengenangmu.
Tak selamanya kasih dalam hati abadi
Yang abadi hanya urusan Ilahi
Dialah pengatur
Dialah penetap takdir
Jiwa hanya pada genggaman-Nya
Titipan harus rela kembali kepada pemiliknya
Sempatkan berbagi dengan orang-orang terkasih,
sebelum mereka hilang ditelan takdir
Angin tak kan berhembus kepada jiwa yang hilang
Doa kan selalu mengiringi mereka
Doa adalah hadiah yang terbaik bagi mereka
Terima kasih atas kenangan kita
Selamat jalan
Kau kan selalu ku sebut dalam setiap doaku
Senyummu tak kan terhapus dalam hatiku
Aku bangga padamu...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar